Analisis Aktivitas dan Kualitas Ruang Terbuka Publik Pantai Wailola
DOI:
https://doi.org/10.22487/peweka.v5i2.142Kata Kunci:
Aktivitas Publik, Public Life, Public Space, Kualitas Ruang, Pantai WailolaAbstrak
Ruang publik merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan perkotaan karena tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka secara fisik, tetapi juga sebagai tempat berlangsungnya berbagai aktivitas masyarakat, interaksi sosial, dan kegiatan rekreasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis aktivitas yang berlangsung di Pantai Wailola berdasarkan konsep Public Life serta menganalisis kualitas ruang berdasarkan Project for Public Spaces (PPS). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik observasi, behavior mapping, time budget, kuesioner, dokumentasi, dan telaah dokumen. Pengamatan dilakukan selama 14 hari pada periode pagi, siang, sore, dan malam dengan melibatkan 72 responden. Analisis aktivitas menggunakan klasifikasi necessary activities, optional activities, dan social activities, sedangkan kualitas ruang dianalisis berdasarkan aspek Uses & Activities, Comfort & Image, Access & Linkages, dan Sociability. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optional activities merupakan jenis aktivitas yang paling dominan, yaitu tercatat sebanyak 21 aktivitas pada hari kerja (weekday) dan 93 aktivitas pada hari libur (weekend). Jumlah tersebut diperoleh berdasarkan frekuensi aktivitas yang tercatat dari responden yang melakukan aktivitas selama periode pengamatan pada hari kerja (weekday) dan hari libur (weekend). Aktivitas paling terkonsentrasi pada Zona Rekreasi, dengan hasil analisis Kernel Density menunjukkan konsentrasi aktivitas lebih luas pada weekend dengan nilai maksimum 0,0278 dibandingkan weekday sebesar 0,0189, sedangkan sore hari menjadi waktu kunjungan paling dominan. Durasi kunjungan paling dominan adalah 1–2 jam. Kualitas ruang Pantai Wailola berada pada kategori baik dengan nilai Uses & Activities sebesar 3,97, Comfort & Image sebesar 3,52, Access & Linkages sebesar 3,75, dan Sociability sebesar 4,05. Hasil sintesis menunjukkan bahwa Pantai Wailola telah mampu membentuk public life melalui dukungan kualitas ruang terhadap aktivitas rekreasi dan sosial, namun pemanfaatan ruang masih cenderung terpusat pada ruang dan waktu tertentu. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemerataan pemanfaatan antarzona melalui peningkatan kenyamanan pada ruang yang kurang dimanfaatkan, penyediaan elemen peneduh dan fasilitas pendukung agar aktivitas dapat berlangsung lebih beragam dan merata di kawasan Pantai Wailola.
Referensi
Athif, U. Z., & Nurhasan. (2024). Penerapan teori Carr (1995) pada kualitas ruang publik studi kasus Alun-Alun Karanganyar. Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur, 645–654.
Bappeda. (2025). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Seram Bagian Timur Tahun 2025 - 2029.
Badan Informasi Geospasial. (2025). Citra Satelit Wilayah Kelurahan Kampung Wailola. BIG.
Gehl, J. (2011). Life Between Buildings: Using Public Space. Washington DC: Island Press.
Gehl, J., & Svarre, B. (2013). How to study public life. Island Press. https://doi.org/10.5822/978-1-61091-525-0
Ghozali, A., & Edinita, D. C. (2021). Arahan peningkatan kualitas ruang terbuka hijau publik berdasarkan persepsi masyarakat di Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 17(4), https://doi.org/10.14710/pwk.17.4.444-456
Glorieux, A. (2009). Berapa hari ? Perbandingan kualitas data penggunaan waktu dari buku harian 2 hari dan 7 hari Perkenalan. 2, 314–327.
Jan Gehl (2011). Resensi Buku: Life Between Buildings Karya Jan Gehl. https://urbandesignlab.in/tag/city-planning/
Marhendra, C. P. (2025). Exploring the impact of built environment development on activity patterns of public open space: The case of Alun-alun Batu. TATALOKA, 27(2), 192–202. https://doi.org/10.14710/tataloka.27.2.192-202
Napitupulu, C. B., & Wungo, G. L. (2024). Identifikasi perilaku pengunjung pengguna ruang publik Taman Indonesia Kaya, Kota Semarang. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 13(2), 124–130. https://doi.org/10.14710/tpwk.2024.35311
Project for Public Spaces. (2009). What makes a successful place? Project for Public Spaces.
Pasaribu, N. R., & Ristianti, N. S. (2024). Behavioural mapping penggunaan ruang publik oleh anak-anak pada masa Covid-19 di Lapangan Merdeka Pematangsiantar. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 13(2), 105–113. https://doi.org/10.14710/tpwk.2024.34535
Suminar Lintang., Khadijah, S., & Nugroho, R. H. (2021). Pola aktivitas pemanfaatan ruang terbuka publik di Alun-Alun Karanganyar. Arsir: Jurnal Arsitektur, Edisi Khusus, 1–12. https://doi.org/10.32502/arsir.v0i0.3644
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sukmawati, A. A. (2023). Pola aktivitas masyarakat dalam pemanfaatan public open space di Kota Balikpapan berdasarkan kepadatan aktivitas (Studi kasus: Kawasan Lapangan Merdeka) [Bachelor thesis, Institut Teknologi Kalimantan]. Repository Institut Teknologi Kalimantan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Indah Hafifah Anggraini, Stevanius Titaley, Resky Prafitri

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





