Arahan Penutupan Lahan Daerah Aliran Sungai Batu-batu sebagai Upaya Mitigasi Pendangkalan Danau Tempe

Penulis

  • Chaeria Anila Program Studi Arsitektur Bangunan Gedung, Politeknik Negeri Samarinda, Indonesia
  • Marleny Dara Program Studi Ilmu Tanah, Universitas Papua, Indonesia
  • Muhammad Dahri Syahbani Rusman Program Studi Teknik Perencaan Wilayah dan Kota, Universitas Sulawesi Barat, Indonesia
  • Sri Batara Nurfajri Arisaputri Departemen Arsitektur dan Perencanaan, Universitas Syiah Kuala, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.22487/peweka.v5i1.109

Kata Kunci:

Land use direction, Soil and Water Assessment Tool (SWAT), Sediment

Abstrak

Ekosistem Danau Tempe merupakan salah satu danau prioritas nasional yang perlu diselamatkan karena tingkat kerusakannya berupa sedimentasi yang cukup tinggi dan merupakan ekosistem yang sangat berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi serta ketahanan sosial dan sumber kehidupan masyarakat di wilayah sekitarnya. Pendangkalan yang terjadi di Danau Tempe secara alami diakibatkan oleh sedimen yang dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara di danau salah satunya adalah sungai Batu- Batu. Penelitian Oseanologi dan Limnologi menyatakan bahwa akumulasi endapan Total Suspended Solids (TSS) tertinggi di Danau Tempe terjadi di muara sungai Batu-Batu. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besaran nilai sedimentasi pada DAS Batu-Batu. Dengan mengetahui tingkat sedimentasi maka dapat dilakukan alternatif mitigasi dan skenario yang sesuai untuk DAS Batu-Batu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sedimen dan merumuskan arahan penggunaan lahan yang tepat sebagai mitigasi sedimentasi. Simulasi untuk mengetahui akumulasi sedimen dilakukan dengan menggunakan analisis hidrologi Soil and Water Assesment Tool (SWAT). Sedangkan arahan penutupan lahan dilakukan dengan mempertimbangkan daerah dengan kelas sedimen berat dan sangat berat, kelas kemampuan lahan, kondisi penutupan lahan tahun 2020 dan rencana Pola Ruang Tahun 2032. Hasil simulasi berdasarkan tahun 2020 menunjukkan bahwa pada tahun 2020 nilai sedimen yang dihasilkan cukup tiggi sebanyak 1.233.509,04 ton/tahun. Penambahan nilai sedimen pada tahun 2032 sebesar 30,10% dari kondisi aktual. Setelah dilakukan arahan nilai sedimen berkurang sebesar 66,17%. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa arahan yang telah dibuat dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membuat Rencana Tata Ruang Wilayah kedepannya.

Referensi

Abdulkareem, J. H., Pradhan, B., Sulaiman, W. N. A., & Jamil, N. R. (2023). Agroforestry for watershed conservation: A meta-analysis of runoff and erosion reduction. Agroforestry Systems, 97(2), 281–298. https://doi.org/10.1007/s10457-022-00793-4

Anwar, R., Dariah, A., & Nurida, N. L. (2011). Dampak perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas lingkungan daerah aliran sungai. Jurnal Sumberdaya Lahan, 5(1): 45–56.

Ardiansah, T. (2021). Arahan Penggunaan Lahan sebagai Bentuk Mitigasi Sedimentasi di Daerah Aliran Sungai Lisu. Makassar: Universitas Hasanuddin.

BLHD Sulawesi Selatan. (2012a). Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah 2012. Makassar: Badan Lingkungan Hidup Daerah Sulawesi Selatan.

Borrelli, P., Robinson, D. A., Panagos, P., Lugato, E., Yang, J. E., Alewell, C., ... & Ballabio, C. (2022). Land use and climate change impacts on global soil erosion by water (2015–2070). Proceedings of the National Academy of Sciences, 117(36), 21994–22001. https://doi.org/10.1073/pnas.2001403117

Chen, X., Zhang, X., & Liu, Y. (2020). Dampak perubahan penggunaan lahan terhadap hasil sedimen dan kualitas air: Tinjauan global. Science of the Total Environment, 738: 139–151.

Fithriah, N. (2011). Evaluasi kemampuan lahan untuk arahan penggunaan lahan di daerah aliran sungai. Jurnal Tanah dan Iklim, 33: 55–64.

Hairiah, K., Dewi, S., Agus, F., Velarde, S., Ekadinata, A., Rahayu, S., & van Noordwijk, M. (2022). Measuring carbon stocks across land use systems: A manual. World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor.

Harsono, E. (2016). Kajian limnologi Danau Tempe berdasarkan tiga zona daerah aliran sungai. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 42(2): 123–136.

Hutyra, LR, Yoon, B., & Alberti, M. (2011). Stok karbon terestrial di sepanjang gradien urbanisasi: Sebuah studi di wilayah Seattle, WA. Global Change Biology, 17(2): 783–797.

Kementerian Lingkungan Hidup. (2014). Danau Tempe: Status dan Pengelolaan. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup.

Li, Z., Fang, H., & Li, X. (2021). Global analysis of the relationship between land use change and streamflow and sediment yield. Journal of Hydrology, 599, 126394. https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2021.126394

Nair, PKR (1993). Pengantar Agroforestri. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.

Nasrullah, N., & Kartiwa, B. (2012). Perubahan tutupan lahan dan pengaruhnya terhadap sedimentasi di DAS inlet Danau Tempe periode 1994–2002. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 2(3): 101–110.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.61/Menhut-II/2014 tentang Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Jakarta: Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Pusat Penelitian Limnologi LIPI. (2011). Laju sedimentasi dan kondisi kualitas air Danau Tempe. Dalam BLHD Sulawesi Selatan (Ed.). Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah 2012. Makassar: BLHD Sulawesi Selatan.

Rahman, M. M., Salehin, M., & Islam, M. S. (2022). Sedimentation and its impacts on freshwater lakes in Southeast Asia: A review. Environmental Science & Policy, 136, 55–68. https://doi.org/10.1016/j.envsci.2022.07.008

Rhoades, C., Nair, P., & Singh, V. (2024). Community-based agroforestry adoption in Indonesian watersheds: Drivers and barriers. Forest Policy and Economics, 158, 103098. https://doi.org/10.1016/j.forpol.2023.103098

Diterbitkan

2026-05-28

Cara Mengutip

Anila, C., Dara, M., Rusman, M. D. S., & Arisaputri, S. B. N. (2026). Arahan Penutupan Lahan Daerah Aliran Sungai Batu-batu sebagai Upaya Mitigasi Pendangkalan Danau Tempe . Jurnal Peweka Tadulako, 5(1), 108–123. https://doi.org/10.22487/peweka.v5i1.109